27 Januari 2014

DPR, Kunker Luar Negeri Nihil Hasil

MESKI sering dikritik, anggota DPR masih saja kunker ke luar negeri. Mereka berdalih, melihat pengalaman negara lain amat penting dalam penyusunan sebuah RUU. Mirisnya, ada yang tak ikut berangkat kunker tapi tetap mengambil jatah uang saku.
Kunker ke Luar Negeri, Apa Hasilnya
Surat izin dari pimpinan DPR untuk kunker
SETIAP anggota DPR berencana kunjungan kerja ke luar negeri, banyak kalangan yang meributkan. Mulai dari soal manfaat kunjungan hingga tudingan duit rakyat dipakai pelesiran. 

Saking banyaknya kritik, pimpinan DPR sampai melarang anggota Dewan berkunjung ke luar negeri kecuali untuk urusan legislasi. Meski pada beberapa kunker tertentu, pimpinan Dewan memberi izin. Ada juga fraksi yang kemudian memberlakukan moratorium kunker ke luar negeri, misalnya PKS dan Partai Gerindra. 

Namun,
kritik ataupun larangan nampaknya tak selalu berpengaruh. Sebagian anggota DPR tetap ke luar negeri dengan macam-macam alasan, mulai dari tidak melanggar tata tertib hingga sudah dianggarkan sejak lama. Nudirman Munir, anggota Fraksi Golkar bilang, kunker ke negara lain diperlukan untuk membuat perbandingan antarnegara."Masa kita kunker ke Papua?" katanya suatu ketika.

Pada pengujung 2013, kunker tetap marak. Hanya pemberitaannya yang mereda. Tanpa banyak sorotan media seperti biasanya, Komisi IV dan Badan Legislasi melenggang ke luar negeri. Komisi IV mengunjungi Amerika Serikat, Meksiko, dan Finlandia dengan alasan untuk studi banding penyusunan RUU Konservasi Tanah dan Air. Tapi ketika ditanya hasil kunker tersebut, Wakil Ketua Komisi IV dari Fraksi Golkar Firman Soebagyo cuma menjawab, "Nanti saja."

Beberapa waktu lalu, sejumlah anggota Baleg menapakkan kaki di Moskow, Rusia. Dari Moskow menuju Turki. Alasannya, untuk memperdalam RUU Minuman Beralkohol. Sebelum berangkat, sempat pula dibahas soal negara tujuan. Ada usulan ke Amerika Serikat karena banyak mengedarkan minuman beralkohol, ada juga yang minta ke Tunisia entah apa argumennya. Filipina pun sempat jadi incaran. "Filipina itu jago oplosan. Tapi orang yang meminumnya tidak mati," kata anggota Baleg dari Fraksi Hanura Djamal Azis, saat rapat di Baleg.

Ahmad Muqowam dari Fraksi PPP dengan nada mantap mengatakan, kunker ke luar negeri selalu ada manfaatnya. Salah satunya, bisa memperkaya substansi sebuah RUU. Buktinya, kata dia, RUU Desa yang disahkan pada pertengahan Desember lalu isinya jadi lebih baik setelah dilakukan studi banding ke Brasil dan Cina. "Untuk kunjungan ke Cina, ada benarnya kalimat hikmah yang berbunyi: carilah ilmu sampai ke Negeri Cina," katanya saat membacakan pandangan tentang RUU Desa dalam rapat paripurna, Rabu (18/12).

Bagi Honing Sanny, manfaat kunker lain lagi. Menurut dia, lewat kunker anggota DPR bisa melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing negara sehingga bisa memikirkan apa yang terbaik buat negeri sendiri. Habis urusan legislasi, kadang ia menyempatkan beli oleh-oleh khas negara setempat.  "Seperti waktu kita kunker ke Kuba, kan belum tepat rasanya kalau tidak membawa cerutu," ujarnya. 


Tapi, jangan kira semua peserta kunker punya duit cukup buat belanja aneka barang. Ada juga yang tekor, terutama di negara yang biaya hidupnya terbilang mahal, misalnya Norwegia. Sudah begitu, sampai di Tanah Air dapat kabar bahwa ada anggota DPR yang tak ikut berangkat tapi mengambil jatah akomodasi kunker. Jumlahnya lumayan, bisa mencapai Rp 100 jutaan. "Mestinya sih, kalau tidak kunker ya janganlah ambil uangnya," kata anggota Komisi IV dari Fraksi Demokrat Rosyid Hidayat menyindir ulah sejumlah rekannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments system

Disqus Shortname